Thursday, 23 June 2016
Late post, created in March 2016
Hari ini bener-bener ngebosanin. Ini hari ketiga aku free dari yang namanya project kantor. Hari pertama itu wow, rasanya seneng bnaget, bahagia, sulit diungkapin deh. Hari kedua, yah mulai kerasa tuh bosannya, mulai bingung mau ngapain. Hari ketiga, sumpah ini ngebosanin banget. Tapi yaa, dinikmati aja dulu, mumpung lagi free, jadi bisa oprek oprek apapun yang lagi booming sekarang di dunia luar selain dunia kantor.
Nah, tau gak sih kalau lagi free gini, pikiran kita itu bisa melayang-layang kemana-mana. Soalnya :
1. Lagi gak dipenuhi sama yang namanya bisnis proses dari project yang di-assign ke kita
2. Lagi gak dipenuhi sama pertanyaan 'gimana ya caranya supaya bisa ngebuat kayak begini?'
3. Lagi gak dipenuhi sama pertanyaan 'X (anggap saja namanya), udah sampai mana progress projectnya? Ada kendala kah?' Udah pada tau lah ya, pertanyaan itu datangnya dari mana atau dari siapa?
4. Kamu pasti ngrasain gimana rasanya kamu harus mikir ulang lagi sama yang udah kamu rancang di otak kamu karena apa yang ada di dalamnya sudah berantakan dan butuh waktu untuk nyusun balik hanya karena tiba-tiba mendadak di panggil buat meeting (lupa abis mikirin apa).
5. Buat yang masih baru kerja dan punya sifat menjunjung tinggi 'segan buat ngeganggu atasan untuk menanyakan sesuatu'. Pasti kamu butuh waktu untuk mengumpulkan keberanian dan menyusun pertanyaan apa yang bakalan kamu tanyakan. (I know that feel. hihihihihi)
6. Masih banyak lagi deh pokoknya.
Dikarenakan beberapa hal di atas, coba tebak apa yang aku pikirin?
Weitsss, tunggu dulu, mau tau aja atau mau tau banget ? Hahahaha.
Tuh, aku kepikiran judul yang di atas "plan it's yours but decision is in Him". Sok bijak banget kan? Tapi ya itu dia, kayaknya ada malaikat yang tiba tiba bisikin sesuatu. Padahal tau gak sih, kalau aku habis baca cerita horor yang di share sama teman seperjuangan.
Kalau kamu-kamu penyuka cerita horor, boleh dicoba deh. Soalnya konon katanya, cerita ini real loh. Penasaran? Nih, aku kasih linknya deh http://m.kaskus.co.id/thread/56edafb531e2e6a77a8b4569. Percaya deh, ini bukan lagi promosi tapi cerita horor ini kasih pesan yang bagus banget buktinya habis baca cerita horor, kepikiran sama judul di atas. Meskipun pesan cerita itu gak ada hubungannya sama pesan cerita ini. Hahahahaha :D
Sebenernya aku juga bingung kenapa aku kepikiran kesana. Gatau gimana algoritmanya bisa dapat output begitu (programmer banget ya). Ketahuan deh!. Yups, aku itu seorang developer lulusan sebuah Institusi yang terletak di daerah terpencil tapi bukan berarti pola pikirnya terpencil justru selangkah lebih maju. Iya, cewek, emang kenapa kalau cewek?
Oke oke, back to topic :)
Yah, aku kepikiran gitu karena tadi aku tiba tiba sadar, ternyata sekarang aku udah umur tiiiiiiiitttttttt (sensor). Hahahaha... Yang jelas masih muda kok.
Aku udah bisa sampai ke tahap ini, banyak loh rencana-rencana yang udah aku buat tapi gak semuanya terelealisasi. Ada satu hal yang benar benar aku pengen, kamu kamu juga pasti punya sesuatu hal yang jadi prioritas utama dalam list rencana kamu. Coba deh bayangin, kamu udah bikin timeline untuk rencana kamu, bahkan sampai waktu deadline tiba tapi list itu belum berubah status menjadi terlaksana.
Nah, balik lagi ke kalimat yang paling atas. Biar pun gak semua rencana yang udah aku rancang untuk hidupku terealisasi, ternyata Dia punya rancangan yang lebih baik lagi.
Di kitab suci ajaran agamaku juga bilang kayak gitu, tertulis di Amsal 16:9, isinya
Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya.
Aku juga yakin di ajaran agama yang lainnya juga pasti berkata hal yang sama.
Coba deh kamu ingat-ingat lagi apa yang udah kamu rancang sebelumnya, gak semua terealisasi kan,
but you still survive until this time even tough it's hard. At least you still survive.
Percaya deh, kita bisa tetap survive itu bukan karena kekuatan kita sendiri tapi uluran tanganNya yang selalu tersedia buat kita saat kita ngebutuhin Dia.
Sekarang ini aku juga lagi ngejalanin rancangan Tuhan yang aku yakin ini juga salah satu rancangan terbaikNya dalam hidupku setelah rancangan sebelumnya yang membuatku sampai ke tahap ini (meskipun ini awal segalanya). Rancangan yang dia buat sekarang itu benar-benar kasih aku pemikiran yang lebih dewasa, hati yang semakin kuat dan tegar, menyadari kelemahanku sebagai manusia. Yaaa, meskipun aku belum dapat itu sepenuhnya, tapi ini proses yang Dia kasih untuk mencapai hal yang lebih baik lagi dan aku akui proses ini sulit. Tapi aku yakin semuanya akan indah pada waktunya.
Just believe in Him and always hold His hands.
Oh iya, ingat kan sama pepatah yang bilang ORA ET LABORA, BERDOA SAMBIL BEKERJA jangan sampai kebalik loh. Kalau kita pegang prinsip itu, yakin deh Dia akan sangat mempertimbangan setiap rencana kita
Buat kamu-kamu yang sekarang lagi ada di proses sulit yang udah dirancangkan oleh-Nya, tetap semangat, percaya deh kamu bisa melalui rancangan yang udah disusun Dia buat kamu. Dia udah nyiapin rancangan kehidupan kita masing-masing dan rancangan itu adalah rancangan terindah. Percaya gak percaya aku punya imajinasi kalau Dia itu punya perpustakaan yang besar banget yang nyimpan buku-buku kehidupan kita dan di sampul buku itu sudah diukir dengan nama kita masing-masing
Huaaaaaaa, sok bijak banget. Tapi ini ngalir gitu aja, beneran. Semangat buat kita-kita yang percaya kalau rancangan indah itu selalu ada buat kita dan ingat tetap tersenyum :)
Oh iya, hari ini Jumat.
Sekian
Tuesday, 3 May 2016
ada beberapa hal yang sulit dihindari
yaa, salah satunya perpisahan
bukan perpisahan untuk selamanya
tapi perpisahan semu
meskipun semu......
tinta pena ini sebagai perwakilan
perwakilan untuk menyampaikan beberapa hal
yang tiap goresannya diselimuti ketulusan
ketulusan yang diciptakan karena sebuah hubungan
setiap ketulusan itu berisi doa
tentunya untuk setiap kesuksean
tentunya untuk setiap kesehatan
tentunya untuk setiap rencana
tinta pena ini juga perwakilan
untuk menyampaikan ketulusan itu
pada Tuhan Sang Pencipta
04 Mei 2016 - dedicated to 'mba Dwina'
04 Mei 2016 - dedicated to 'mba Dwina'
Friday, 29 April 2016
entahlah, aku tidak tahu
dimana jarum jam itu beristirahatkarena di saat itulah, angin menghampiriku
memberikan sebuah pesan
pesan yang aku tak tau harus bereaksi seperti apa
pesan yang memaksa hatiku bergejolak
pesan yang memaksa pikiranku untuk kacau
pesan yang memaksa butiran itu jatuh
apakah kau tau, pesan apa yang disampaikan?
kau ingin tahu?
Arghhh.
untuk apa kau bertanya?
bukankah kau yang meminta angin untuk menyampaikannya?
ya, kau..
kau yang tega memberikan perintah itu kepada angin
sebuah perintah untuk menyampaikan kepergianmu
yang hanya meninggalkan kenangan dan nama
pergi, keinginanmu kah?
entahlah
hanya kau dan Tuhan yang mengetahuinya
29 April 2016 - dedicated to 'trinova lumbangaol'
ditemani oleh titik air hujan
apakah ini memang waktu yang tepat
bertanya kepada sebuah pikiran
kata seperti apa yang pantas bibir ucapkan
bertanya kepada sebuah pikiran
kata seperti apa yang pantas bibir ucapkan
termenung dalam imajinasi yang tak terbendung
berputar dalam sebuah pilihan
kata-kata yang seolah tak ingin disentuh
membuat waktu bergulir begitu cepat
aku tak ingin waktu mendahuluiku
aku ingin mengumpulkan desibel bunyi sebanyak mungkin
aku ingin mengumpulkan desibel bunyi sebanyak mungkin
seperti titik air hujan yang bersatu
membentuk sebuah pasukan yang kuat
sehingga
takkan ada pasukan lain yang menghalangiku
untuk menyampaikan setiap desibel bunyi itu
aku berharap, sangat berharap
kau tidak berada dalam ruang vakum
agar desibel itu merambat melalui telingamu
untuk mendengar sebuah pengakuan
untuk mendengar sebuah pengakuan
ya, sebuah pengakuan
yang akan menerobos masuk menuju hati dan pikiranmu
Wednesday, 6 April 2016
Gilang menutup catatan kecilnya, menghela nafas panjang dan membaringkan dirinya di hamparan pasir putih. Matanya lurus memandang langit biru yang sudah dinodai oleh semburat oranye pertanda matahari akan kembali beristirahat seperti Gilang yang saat ini juga sangat ingin beristirahat dari kelelahannya untuk sejenak.
Tepat di sebelah Gilang berbaring seorang gadis seperti sedang ikut terhanyut dalam peristirahatan Gilang sambil menikmati angin pantai dan langit yang indah. Gadis itu melihat ke arah Gilang dan tersenyum.
"Gilang... Kamu ngapain aja sih disini? Makan malam sudah tersedia tuh. Tim udah pada nungguin kamu, pada kelaparan tuh" ucap seorang gadis
"Iya iya, bawel banget sih" Gilang beranjak dari tempatnya dibantu oleh gadis tersebut, tetapi Gilang malah menarik gadis itu dan alhasil gadis itu terjatuh saat membantu Gilang berdiri.
"Gilangggggggggg.... Sakit tauuu" Gadis itu setengah berteriak
"Katanya mau makan, udah lapar, kok malah gantiin aku baringan disitu sih Na?"
Gilang langsung berlari meninggalkannya. Gadis itu tidak ingin kalah, dia juga langsung bangkit dan mengejar Gilang.
"Awas kamu yaaaa." Kekonyolan mereka disaksikan oleh matahari yang akhirnya kembali ke tempat peristirahatannya.
Ratna Antika adalah sahabat Gilang. Mereka sudah mulai berteman sejak mereka kecil. Keluarga Ratna dan Gilang saling mengenal, bahkan dulunya mereka sering menghabiskan waktu bersama seperti liburan keluarga, saling mengunjungi satu dengan yang lainnya.
Ratna dan Gilang juga berasal dari Universitas yang sama dan teman-teman di kampusnya juga sudah mengetahui tentang pertemanan mereka. Ratna sudah menganggap Gilang sebagai saudara kandungnya begitu juga dengan Gilang.
Tepat di sebelah Gilang berbaring seorang gadis seperti sedang ikut terhanyut dalam peristirahatan Gilang sambil menikmati angin pantai dan langit yang indah. Gadis itu melihat ke arah Gilang dan tersenyum.
"Gilang... Kamu ngapain aja sih disini? Makan malam sudah tersedia tuh. Tim udah pada nungguin kamu, pada kelaparan tuh" ucap seorang gadis
"Iya iya, bawel banget sih" Gilang beranjak dari tempatnya dibantu oleh gadis tersebut, tetapi Gilang malah menarik gadis itu dan alhasil gadis itu terjatuh saat membantu Gilang berdiri.
"Gilangggggggggg.... Sakit tauuu" Gadis itu setengah berteriak
"Katanya mau makan, udah lapar, kok malah gantiin aku baringan disitu sih Na?"
Gilang langsung berlari meninggalkannya. Gadis itu tidak ingin kalah, dia juga langsung bangkit dan mengejar Gilang.
"Awas kamu yaaaa." Kekonyolan mereka disaksikan oleh matahari yang akhirnya kembali ke tempat peristirahatannya.
Ratna Antika adalah sahabat Gilang. Mereka sudah mulai berteman sejak mereka kecil. Keluarga Ratna dan Gilang saling mengenal, bahkan dulunya mereka sering menghabiskan waktu bersama seperti liburan keluarga, saling mengunjungi satu dengan yang lainnya.
Ratna dan Gilang juga berasal dari Universitas yang sama dan teman-teman di kampusnya juga sudah mengetahui tentang pertemanan mereka. Ratna sudah menganggap Gilang sebagai saudara kandungnya begitu juga dengan Gilang.
"Oke tim, semua sudah berkumpul disini. Sambil kita menikmati hidangan yang tersedia di meja makan, saya ingin menyampaikan sesuatu" ucap William yang memimpin tim pengajar di daerah mereka berada sekarang.
"Terimakasih untuk kita semua. Terimakasih karena kalian jiwa-jiwa muda masih memberikan perhatian kalian untuk pendidikan di Negara kita ini. Saya sangat berharap semangat ini akan tetap seperti ini sampai jiwa-jiwa muda dengan semangat seperti kalian muncul lagi. Saya sangat senang bekerja sama dengan kalian. Seperti yang telah kalian ketahui, ini adalah hari terakhir kita bisa bersama, karena saya akan melanjutkan program Doctor saya ke luar negeri bersama dengan keluarga saya. Saya memang berhenti dari pekerjaan ini, tetapi saat saya kembali lagi ke Indonesia, dan dengan ijin Tuhan saya berencana untuk ikut membantu kembali pada kegiatan ini. Meskipun kita berpisah tetapi kita tetap satu tim dan jangan sampai putus komunikasi. Untuk menggantikan posisi saya, saya meminta kesedian Gilang untuk berdiri"
"Untuk rekan-rekan, saya mohon bantuannya dengan begitu kita dapat meningkatkan kualitas pengajaran kita lagi. Terimakasih untuk Pak William yang telah memberikan saya kepercayaan. Saya pasti akan berusaha yang terbaik."
Tim serentak bertepuk tangan sebagai tanda untuk menyambut leader baru mereka.
"Saya juga memiliki satu pengumuman lagi. Kita akan kedatangan satu anggota baru. Seorang gadis cantik yang berdomisili di Jakarta. Sepertinya Ratna akan memiliki saingan baru sebagai wanita tercantik di tim kita" lanjut Pak William
Semua anggota tim ribut membicarakan gadis yang akan menjadi anggota tim mereka, maklum di tim ini hanya ada seorang gadis yang bernama Ratna dan kali ini Ratna akan terancam dari posisinya sebagai wanita tercantik.
Gilang menatap Ratna dengan jahil, Ratna hanya memasang wajah kesal untuk membalas Gilang. Tetapi tetap saja dia merasa senang, jadi dia memiliki teman yang bisa diajak 'gosip'. Ratna tersenyum, tidak sabar menunggu kehadiran gadis itu.
"Oke oke, semuanya kembali tenang. Gadis ini akan bergabung dengan tim kita mulai minggu depan. Saya sudah bertemu dengan dia sebelumnya, dan menurut saya dia cantik"
Sontak semua anggota tim kembali bersorak, terutama untuk anggota laki-laki, tetapi Gilang hanya tersenyum.
"Baiklah, sekian pengumuman dari saya. Mari kita menikmati hidangan lezat yang ada di hadapan kalian sepuasnya. Kita berpesta. Cheers....." ucap William sambil mengangkat gelasnya diikuti dengan anggota lainnya.
Bintang kembali memegang pundaknya yang terkena pukulan Tika. "Sakit banget sih pukulan tuh anak."
Tika beranjak dari tempatnya dan kembali ke kamar meletakkan tas yang berisi perkakas untuk membantu dirinya selama berada di kantor.
Besok adalah hari terindah untuk seluruh pekerja yang bekerja hanya lima hari dalam seminggu tidak terkecuali untuk Tika. Tika mengeluarkan benda segiempat berwarna putih dan membuka akun blogspot miliknya dan mulai untuk merangkai kalimat untuk mengawali ceritanya.
Lewat blogspot miliknya,Tika sedikit banyak mencurahkan hal yang dia rasakan selama menjalani setiap detik yang ia punya.
"Ada beberapa hal indah di dunia ini yang memang belum waktunya menjadi milik kita tetapi setiap hembusan nafas kita adalah hadiah terindah yang Tuhan berikan secara cuma-cuma. Hadiah terindah itulah yang seharusnya mengingatkan kita umat manusia untuk selalu bersyukur kepadaNya tidak terkecuali untukku. Aku juga punya kado terindah lainnya. Kado itu adalah orangtua yang sangat menyayangiku dengan segenap hati dan jiwa yang membuatku dapat masuk ke dalam satu komunitas yaitu 'KELUARGA'. Hadiah itu semakin lengkap dengan dibungkus oleh kotak dan pita yang sangat indah yaitu seorang kakak ataupun adik. Aku sangat merindukan kalian.
Aku masih menunggu kado lainnya Tuhan :)" 16
Tika menutup blogspotnya dan memutar sebuah lagu.
**
"Kak Gilaaaaaannnggggg......" teriak beberapa anak kecil yang berlomba untuk memeluk laki laki yang sepertinya sudah sangat lama dinantikan oleh anak anak tersebut.
Anak-anak itu memeluknya dengan sangat bahagia sedangkan laki laki yang bernama Gilang Pratmo itu membungkukkan tubuhnya dan berusaha untuk merangkul semua anak tersebut sambil tertawa bahagia.
Anak-anak itu memeluknya dengan sangat bahagia sedangkan laki laki yang bernama Gilang Pratmo itu membungkukkan tubuhnya dan berusaha untuk merangkul semua anak tersebut sambil tertawa bahagia.
Gilang Pratmo adalah salah satu mahasiswa di sebuah Universitas terkenal di Jakarta dan kerap sekali mengisi waktu libur kuliahnya dengan mengikuti sebuah program Menteri Pendidikan yang mencari orang-orang yang bersedia memberikan tenaganya untuk membantu setiap anak yang belum merasakan pendidikan. Daerah yang menjadi tempatnya membantu adalah Maluku. Gilang memang seorang jiwa muda yang menaruh perhatian terhadap pendidikan di Indonesia.
"Halo adik-adik. Apa kabar semuanya?"
"Luar biasa kak Gilaaaannnggggg...." sontak semua anak menjawab dengan sangat antusias sambil memberikan senyuman lebar mereka.
Melihat senyuman anak-anak itu, Gilang sangat bahagia yang membuat gigi rapinya terlihat semua.
"Baiklah, kita mulai pelajaran kita ya. Seperti biasanya, siapa yang berhasil menjawab pertanyaan kakak di akhir kelas kita nanti, akan ada hadiah" Gilang memulai penjelasannya tentang pelajaran Matematika.
"Halo adik-adik. Apa kabar semuanya?"
"Luar biasa kak Gilaaaannnggggg...." sontak semua anak menjawab dengan sangat antusias sambil memberikan senyuman lebar mereka.
Melihat senyuman anak-anak itu, Gilang sangat bahagia yang membuat gigi rapinya terlihat semua.
"Baiklah, kita mulai pelajaran kita ya. Seperti biasanya, siapa yang berhasil menjawab pertanyaan kakak di akhir kelas kita nanti, akan ada hadiah" Gilang memulai penjelasannya tentang pelajaran Matematika.
Program yang diikuti Gilang adalah program yang dicanangkan oleh Menteri Pendidikan untuk anak-anak daerah yang sama sekali belum mendapatkan pendidikan dasar. Para pengajar yang tergabung adalah kalangan muda dari berbagai jurusan, sehingga tidak ada batasan untuk menjadi pengajar muda yang ingin membantu pendidikan Indonesia menjadi lebih baik.
"Kak Gilang, terimakasih untuk hadiahnya" tiba-tiba seorang gadis dengan senyuman manis muncul dari balik punggung Gilang.
Gilang yang sedang menikmati angin sore sebuah pantai yang terletak tepat di tempat dia mengajar. Gilang meletakkan gadis kecil itu di pangkuannya. "Sama-sama gadis manis. Permennya enak tidak? Kamu harus lebih rajin lagi belajarnya ya. Supaya gede nanti bisa beli permen lebih buuaannyaaaaakkk lagi" ucap Gilang sambil memegang kepala gadis kecil itu.
Gilang yang sedang menikmati angin sore sebuah pantai yang terletak tepat di tempat dia mengajar. Gilang meletakkan gadis kecil itu di pangkuannya. "Sama-sama gadis manis. Permennya enak tidak? Kamu harus lebih rajin lagi belajarnya ya. Supaya gede nanti bisa beli permen lebih buuaannyaaaaakkk lagi" ucap Gilang sambil memegang kepala gadis kecil itu.
"Nanti kalau aku udah gede, aku bakalan kasih permen yang paling banyak ke kak Gilang, karena kak Gilang itu baik."balas gadis itu sambil berlari kecil meninggalkan Gilang.
Gilang tersenyum dan mengambil catatan yg berada di sampingnya dan sebuah pena dengan ukiran indah. Gilang membuka catatannya dan mulai menuliskan sesuatu.
"Tersenyum memiliki banyak arti. Tersenyum bisa mewakilkan kepalsuan dan ketulusan. Tergantung setiap orang akan memilih senyuman kepalsuan atau senyuman ketulusan itu sendiri. Tapi di tempat ini, aku memilih untuk memberikan senyuman ketulusan karena aku juga memperoleh senyuman tulus . Senyuman dari setiap hati anak anak yang dengan tulus mereka ungkapkan. Senyuman itu yang membuatku belajar artinya ketulusan. 09"
Sunday, 3 January 2016
"Bu,
tas Dian ada dimana ya Bu? Perasaan kemarin Dian letak di kamar deh."
teriak Dian sambil mondar-mandir mencari tasnya yang entah bersembunyi dimana.
Terdengar
teriakan lain dengan nada yang lebih tinggi dari seorang anak yang berumur 8
tahun "Ibu, buku gambarnya Tio dimana?".
"Kemarin
kan baru dibeli sama kakak, coba deh lihat lagi Nak." Ibu balas berteriak
sambil beradu dengan waktu untuk menyiapkan sarapan anak-anaknya sebelum
berangkat ke sekolah.
"Bu,
bantuin Dian dong Bu. Dian udah telat nih Bu", teriakan Dian semakin
kencang karena jarum jam yang menempel manis di dinding sudah menunjukkan angka
7 diikuti dengan jarum menitnya di angka 4.
"Aduh
Dian, kamu kebiasaan sih naruh barang sembarangan. Kalau kayak gini kan semuanya
jadi repot." omel Ibunya, Ratna, sambil mempercepat gerakannya memindahkan
semua menu makanan ke atas meja makan.
"Dian,
ini tas kamu. Kemarin kamu tidur di lantai lagi ya? Tuh kan kebiasaan."
Dian memang
memiliki kebiasaan tidur di lantai sambil melakukan pekerjaannya di malam hari
dengan begitu hawa dingin bisa dengan leluasa mengalir ke tubuhnya dan
membuatnya lebih nyaman untuk mengerjakan pekerjaannya.
"Yey,
Ibu makasih ya. Akhirnya, ketemu juga"
"Ibu,
Tio gak nemu buku gambarnya. Ibu bantuin Tio juga dong Bu" rengek Tio yang
dari tadi tak menemukan buku gambarnya.
"Bu,
Dian berangkat ya" teriak Dian yang sudah mempersiapkan motor
kesayangannya yang selalu menemaninya berangkat ke sekolah.
Ibu yang
sedang membantu Tio mencari buku langsung menghentikan aktivitasnya sejenak.
"Dian, kamu kan belum sarapan. Ibu udah masak loh. Sarapan dulu dong
sayang."
"Aduh
Bu, Dian udah telat banget nih. Gak sempat lagi buat sarapan. Ntar Dian sarapan
di kantin sekolah aja deh Bu" balas Dian sambil menghidupkan mesin motornya.
Tepat
sebelum Dian menginjak pedal gas untuk pergi, Ibu sudah berada di belakang Dian
dan memasukkan sebuah kotak yang berisi nasi dan lauk yang membuat perut
siapapun yang mencium aromanya akan berteriak minta tolong untuk diisi oleh
makanan lezat itu.
"Di
dalam kotak ini sudah ada nasi lengkap dengan lauk dan sayurnya. Jangan lupa
dimakan ya sayang." ucap Ibu sambil tersenyum lembut kepada Dian
"Ibuuuu..."
teriak Tio dan Ibu langsung menyudahi percakapannya dengan Dian.
"Yaudah
Di, pergi sana. Hati-hati ya Di."
"Iya
Bu, makasih ya Bu" Dian menyalam Ibunya dan menginjak pedal gas motornya.
Aktivitas
seperti inilah yang mengisi pagi Ratna, Ibu dengan dua anak, yaitu Dian dan Tio.
Ratna adalah seorang single parent.
Status tersebut menjadi miliknya sekitar 16 tahun yang lalu saat Dian masih
berumur 2 tahun dan adiknya yang masih dalam kandungan. Suami Ratna meninggal
dalam tugasnya sebagai seorang pilot dalam penerbangannya yang ke-10 dengan
rute Jakarta - Medan. Kecelakaan naas itulah yang memisahkan Ratna dan
anak-anaknya dari suaminya, hingga harus berjuang sendiri untuk mengurus kedua
anak yang sudah dititipkan Tuhan baginya.
***
Tepat saat
Dian memarkirkan motornya dengan rapi di parkiran yang tidak jauh dari
sekolahnya, bel tanda kegiatan sekolah akan dimulai membuat semua siswa yang
masih berada di luar gerbang berlari sekuat tenaga untuk mencapai gerbang
sebelum tertutup rapat tanpa menyediakan celah untuk bisa mengikuti pelajaran. Untungnya
Dian dengan tubuh mungilnya berhasil menembus gerbang yang hampir saja
tertutup.
Kelas XII
IPA 4 adalah kelas yang selalu riuh dengan celotehan-celotehan ala siswa SMA.
Ada yang sedang serius menyalin pekerjaan rumah temannya, ada yang sedang
bergosip ala Ibu-Ibu dan ada yang sedang memperbaiki dandanannya agar tetap
terlihat kece. Dian duduk bersama dengan seseorang yang sudah menjadi
sahabatnya sejak SMP.
"Selamat
pagi anak-anak." Pak Frans adalah guru Bahasa Indonesia, yang termasuk
guru yang dicap aneh oleh murid-muridnya. Pak Frans dengan postur tubuhnya yang
lumayan besar dan tinggi dilengkapi dengan kacamata besar dan tebal yang
membingkai matanya dan tidak pernah absen dalam membawa kayu berukuran 30 cm
sebagai senjata untuk menghadapi siswa yang nakal.
"Hari
ini topik yang akan kita bahas adalah bercerita. Kalian pasti punya cerita
berdasarkan pengalaman hidup kalian, benar bukan? Oleh karena itu, untuk
melengkapi topik kita hari ini, saya menugaskan kalian semua untuk membuat
sebuah cerita yang akan dikumpulkan lusa. Untuk cerita terbaik akan diberikan
sebuah apresiasi dengan membacakan cerita hasil karangannya pada saat pembagian
rapor sekaligus pengumuman kelulusan kalian di tanggal 23 Desember nantinya.
Topik yang akan menjadi cerita kalian adalah Ayah".
Mendengar 1
kata itu diucapkan, Dian terkejut serasa waktu yang ada sekarang sedang
berhenti untuk beberapa detik dan membuatnya kembali keenam belas tahun yang
lalu. Waktu yang amat sangat singkat untuk berada di pelukan Ayahnya. Ayah yang
selalu dirindukannya sampai detik ini.
"Dian, kamu
gak apa apa kan?" tanya Rika, sahabatnya, sambil menyentuh tangannya.
"Aku
gak apa apa kok Rik" ucap Dian dengan menyunggingkan sebuah senyuman yang
Rika tahu itu adalah senyuman pahit dari sahabatnya yang tidak tahu bagaimana
mendeskripsikan sosok Ayah yang dimilikinya.
***
Sesampainya
di rumah, Dian mengucapkan salam kepada Ibunya dengan tidak bersemangat dan
langsung masuk ke dalam kamar. Melihat
itu Ibunya heran dan langsung menghampiri putri sulungnya itu.
"Sayang,
kamu kenapa? Kenapa wajah kamu murung begitu? Apa ada masalah di sekolah?"
Dian
langsung memeluk Ibunya dengan sangat erat dan setetes air mata jatuh tepat di
leher Ibunya. "Dian kangen Ayah Bu. Dian pengen banget ketemu Ayah".
Ratna balas
memeluk Dian lebih erat lagi. Dia tidak dapat membendung air mata yang memaksa
untuk keluar. "Ibu juga kangen sama Ayah kamu, Nak. Tapi percayalah dia
selalu ada bersama kita, di hati kita" . Ibu dan anak ini larut dalam
kenangan mereka terhadap sosok pria yang sangat mereka rindukan.
Keesokan paginya,
dengan mata yang masih sembab, Dian mencoba memfokuskan matanya terhadap
angka-angka yang ada pada jam dinding.
"Masih
jam 6.15 ternyata" ucap Dian dalam hati sambil berusaha mengangkat
tubuhnya untuk beranjak dari tempat tidur. Dian mendapati Ibunya sedang
menyiapkan sarapan pagi. Ibu yang selalu berada di sampingnya dan Tio dalam
keadaan apapun. Tiba-tiba dia teringat tugas yang diberikan oleh Pak Frans dan
idenya muncul begitu saja. Dian memeluk Ibunya sambil mengucapkan selamat pagi
dan terima kasih. Ibunya hanya tersenyum sambil mengusap rambut Dian.
"Siap-siap
sana, bangunin adik kamu juga ya Di".
"Oke deh Bu. Tioooo, ayo bangun.
Siap-siap ke sekolah".
****
Disinilah
Dian, di lantai kamarnya sibuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh Pak Frans.
Setiap kata-kata yang ia tuliskan dengan penanya, ia keluarkan dari hatinya
yang paling dalam hingga akhirnya sampai pada tanda baca titik yang terakhir sebagai
tanda untuk menyudahi pekerjaannya dan akan diserahkan kepada Pak Frans besok.
****
Bel berbunyi
sebagai tanda setiap guru wajib menyudahi proses belajar mengajarnya dan
membiarkan muridnya untuk kembali ke rumah. Tetapi sebelumnya, Pak Frans ingin
memberitahukan hasil dari cerita yang sudah dibuat oleh murid-muridnya.
Ternyata yang terpilih sebagai cerita terbaik adalah cerita milik Dian. Semua
murid XII IPA 4 memberikan tepuk tangan yang meriah yang ditujukan kepad Dian
sebagai bentuk apresiasi dari usaha terbaiknya.
Dian
tersenyum bahagia dan berbicara dalam hati "Terima kasih banyak Bu".
*****
Kalender
menunjukkan tanggal 23 Desember, hari dimana di aula SMA Airlangga akan dibagikan
hasil pembelajaran setiap muridnya selama semester genap berjalan dan untuk
kelas XII akan menerima hasil akhir sekolah mereka selama 3 tahun ini, apakah lulus
atau tidak. Pada acara ini, SMA Airlangga mengundang orangtua dari setiap murid
kelas XII. Pada hari ini juga, Dian akan membacakan cerita yang sudah
ditulisnya dengan sungguh-sungguh untuk seseorang yang benar benar
disayanginya.
Setelah
pengumuman kelulusan mereka, sampailah di saat Pak Frans memanggil nama Dian
untuk mempersembahkan sebuah cerita hasil karyanya sendiri.
"Terimakasih
atas kesempatan yang diberikan kepada saya untuk bisa membacakan cerita yang
telah saya buat. Cerita ini terinspirasi dari seseorang yang sangat saya
hormati, saya kagumi, saya sayangi. Orang yang selalu ada buat saya, yaitu Ibu
saya" ucap Dian sebagai kata-kata pengantar yang membuat seorang wanita
tersenyum haru melihat putrinya berada di atas panggung. Dian mulai membaca
cerita yang dibuat olehnya.
Ayah, saat satu kata itu diucapkan ingatanku
akan kembali membawaku kedelapanbelas tahun yang lalu. Sampai aku berumur 2
tahun aku masih bisa merasakan kehangatan dari seorang Ayah, tapi ingatan akan
kehangatan itu sekarang samar mengisi pikiranku. Dia telah pergi meninggalkan
kami, orang-orang yang sangat menyayanginya, orang-orang yang masih sangat
membutuhkannya, orang-orang yang akan selalu merindukannya. Aku sangat yakin
sekarang dia berada di samping Tuhan sambil tersenyum karena mengetahui dia
sedang digosipin oleh putrinya sendiri. Meskipun dia sudah berada di tempat
yang sangat jauh, ada seorang malaikat yang diutus Tuhan untuk berada di
sampingku dan adikku. Aku memanggilnya Ibu.
Seorang wanita luar biasa yang sudah
kehilangan sebagian dari jiwanya, yaitu Ayahku. Dia pasti sangat sedih, tapi
dia tak pernah melupakan kami anak-anaknya. Dia tetap berjuang untuk merawat
kami dengan kasih sayang tulus darinya. Dia selalu mengucapkan nama kami
anak-anaknya di setiap doa yang dia panjatkan kepada Tuhan.
"Ibu,
aku sangat merindukan Ayah, aku sangat ingin bertemu dengannya." ucapku
dengan isak tangis. Ibu langsung memelukku dengan amat sangat erat, pelukan
yang sangat hangat, pelukan yang mengobati rasa rinduku dengan Ayah dan dari
pelukan itu aku merasakan bahwa Ibu juga sangat merindukan Ayah .
Ya, dia adalah
Ayah untukku. Ayah yang akan selalu melindungi anak-anaknya dengan tangan
kuatnya. Ayah yang selalu memarahi anaknya jika memang pantas untuk dimarahi.
Ayah yang akan menangis diam-diam setelah memarahi anak-anaknya. Ibu adalah
Ayah bagiku, Ibuku adalah seorang superwoman dan superman. Ibu yang luar biasa
yang selalu menjaga kami seorang diri sampai detik ini hingga kami bisa menjadi
anak-anak yang baik.
Terimakasih
untuk setiap kasih sayang yang kau berikan padaku. Terimakasih untuk setiap
pelukan hangat yang membuatku tenang. Terimakasih untuk setiap doa yang kau
panjatkan kepada Tuhan untukku Bu. Tulusnya kasih sayangmu tidak akan mampu
untuk kubalas Bu. Aku tidak akan menjadi seperti sekarang tanpa dukungan
darimu, tanpa pengorbanan darimu. Semuanya karena kasih sayang tulus yang kau
curahkan padaku. Tuhan, terimakasih karena telah menitipkan malaikatmu untuk
tinggal di sampingku. Terimakasih untuk rumah yang kau berikan padaku untuk
tempatku tinggal di dunia ini. Aku menitipkan malaikatku ini kepadaMu Tuhan.
Lindungilah Ibuku, berikan kepadanya umur yang panjang. Apapun yang sedang
dilakukannya dan dimanapun dia berada tetap berkati dia. Selalu bisikkan
kepadanya bahwa kami amat sangat menyayanginya.
Ayah, kami
sangat merindukanmu. Tapi kami tahu bahwa kau akan selalu berada dekat dengan
kami, yaitu di hati kami. Begitulah kata-kata Ibu kepada kami Yah.
Ibu,
terimakasih telah bersedia untuk menjadi malaikat kami di dunia ini, terimakasih
telah menjadi rumah , terimakasih juga telah menjadi superwoman dan superman
untuk kami, anak-anakmu.
Subscribe to:
Posts (Atom)